Obat-Obatan Berbahaya Yang Tidak Anda Ketahui

Bismillah …

Di dunia barat banyak obat-obatan dibuat di laboratorium menggunakan bahan kimia dan sangat eksperimental, yang lebih buruknya lagi, obat-obatan itu tak pernah diuji cobakan pada manusia sebelumnya, kecuali ketika obat-obatan tersebut sudah benar-benar ditentukan, diterapkan atau disuntikkan ke manusia.

Hampir semua orang setuju kalau ditanya apa sebab mereka tidak menyukai perusahaan farmasi yang dikarenakan harga obat yang terlalu mahal. Selain itu ada indikasi upaya perolehan laba perusahaan farmasi yang dilakukan secara tidak benar dan tampaknya setiap beberapa bulan ada korban-korban berjatuhan dari beberapa obat yang sebelumnya diklaim sangat aman tersebut. Itu adalah potret kecil dari industri obat-obatan (contoh perusahaan obat bernama Big Pharma) yang diawasi dengan rasa curiga oleh masyarakat.

Manusia adalah kelinci percobaan utama dalam hal pengobatan khususnya di Amerika Serikat, sementara perusahaan obat-obatan Big Pharma mengantongi triliunan dolar laba dari bisnis ini. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana, setelah Perang Dunia ke-II, para ilmuwan Nazi yang dianggap hilang oleh masyarakat di dunia (ternyata) dikeluarkan dari tahanan perang oleh pihak Amerika untuk dipekerjakan membuat obat-obatan, vaksin, kemoterapi dan zat aditif makanan yang mengandung bahan kimia, hal ini tidak lain untuk meraup keuntungan di ladang bisnis obat-obatan yang paling berbahaya di muka bumi ini. Ini bukan hanya teori konspirasi lagi, tapi sudah berbicara bisnis uang untuk menguntungkan segelintir pihak.

Fakta hasil riset menunjukkan, para dokter cenderung memberi resep obat buatan perusahaan farmasi yang mempromosikan produknya ke dokter bersangkutan. Alhasil, pasien harus membayar mahal biaya obat tersebut dan seringkali tidak memperoleh pengobatan yang tepat

Fakta tersebut adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Geoffrey Spurling dari Universitas Queensland, Brisbane, Australia. Hasil analisis terhadap 58 studi di sejumlah wilayah dinegara itu juga mengungkapkan bahwa informasi dari perusahaan farmasi mempengaruhi para dokter dalam menetapkan resep kepada pasiennya.

Coba pikir dengan logika Anda, apa alasan perusahaan farmasi yang berbasis di Amerika mempekerjakan “Pembunuh Massal” yang pernah dihukum untuk mengisi posisi tertinggi pada perusahaan seperti Bayer, BASF, dan Hoechst (Sanofi-Aventis)? Mari kita telaah beberapa diantara mereka yang merupakan ilmuwan-ilmuwan ahli kimia Nazi ini :

1. Fritz ter Meer (1884-1967)

Keahlian dibidang bahan-bahan kimia. Pernah dihukum karena pembunuhan massal, ternyata hanya dihukum 7 tahun penjara, maka setelah dibebaskan Fritz ter Meer dengan mudahnya menjadi ketua dewan pengawas di Bayer (yup Anda pasti kenal Bayer, perusahaan yang membuat obat untuk anak-anak dan obat Aspirin yang terkenal) dan setelah Fritz ter Meer meninggal dunia pada tahun 1967, Bayer di dukung oleh Yayasan Fritz ter Meer dalam hal pendanaan dalam dunia medis, hal ini sudah menjadi rahasia umum tapi Anda tidak pernah mengetahuinya, bisa dilihat pada Keycode Bayer #273.

2. Carl Wurster (1900-1974)

Dikenal sebagai ahli perang dalam bidang ekonomi pada rezim Reich Ketiga, pada tahun 1924 Carl Wurster bergabung sebagai salah seorang ilmuwan di laboratorium BASF juga membantu memproduksi gas Zyklon-B, pestisida kuat digunakan untuk mengeksekusi jutaan orang Yahudi bekerja pada bagian obatan-obatan kemoterapi.

3. Kurt Blome (1894-1969)

Keahlian dibidang Virologi. Saintis tingkat tertinggi Nazi yang mengakui menyebarkan penyakit Malaria (yang berartifisial melalui gigitan nyamuk) dan bereksperimen di tahanan Dachau dan Buchenwald dengan eksperimen kutu untuk menyebabkan epidemik penyakit Tifus. Pada tahun 1951, Kurt Blome disewa oleh Amerika untuk bergabung di Army Chemical Corps dengan 63 proyek perang yang disepakati, salah satunya menjadi sukresor dari Operasi Paperclip, untuk bekerja pada perang bahan kimia.

Dengan membaca profil 3 orang tersebut saja kita sudah mengetahui bahwa orang-orang tersebut bukanlah sembarang kalangan dibidang kesehatan dan obat-obatan, dengan kata lain, benih jahat yang ada pada perusahaan obat-obatan Big Pharma, telah dilegalisasi melalui FDA (Food and Drug Administration) pertama kali dilakukan pada 65 tahun yang lalu. Banyak dari ilmuwan-ilmuwan Nazi seperti ke-3 orang diatas dipekerjakan dan dipromosikan serta ditempatkan ke tempat strategis oleh presiden Amerika Serikat untuk melontarkan bisnis yang mereka sebut sebagai “Obat-Obatan Modern” dan tujuan utamanya menciptakan penyakit dan kemudian mengobati gejalanya untuk meraup keuntungan.


Berikut adalah obat-obatan berbahaya yang tidak Anda ketahui yang mana mereka menyebutnya dengan sebutan :

Menghabisi yang Lemah :

1. SSRIs (Selective Serotonin Reuptake inhibitors)

Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) adalah obat-obatan yang secara luas diresepkan untuk mengobati Depresi, Gangguan Obsesif-Kompulsif, Bulimia, Anoreksia Nervosa, Gangguan Panik, dan Phobia Sosial Lingkungan. Mayoritas semua antidepresan yang diresepkan adalah dari keluarga turunan SSRIs ini. SSRIs yang umum diresepkan termasuk Fluoxetine, Sertraline, Paroxetine, Citalopram, Escitalopram dan Fluvoxamine. Obat-obatan ini tidak pernah terbukti aman atau efektif karena dampak negatif obat-obatan ini dapat memblokir Serotonin, yang mengakibatkan manusia ke hal-hal seperti tindakan untuk bunuh diri atau tindakan membunuh orang lain.

2. Vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella)

Measles (Campak), Mumps (Gondok) dan Rubella (Campak Jerman) adalah penyebab utama Autisme dan gangguan sistem saraf pusat lainnya serta segudang masalah kesehatan pada anak-anak. Pada kasus autisme banyak para pakar kesehatan menyalahkan kondisi genetik orang tua dan faktor lingkungan sebagai penyebabnya padahal hal ini tidak pernah terjadi sebelum adanya pemberian vaksin. Ketika virus vaksin MMR yang dibiakkan ini masuk ke dalam tubuh, maka sistem kekebalan tubuh akan terancam dan mudah diserang dengan asupan kimia dan bahan-bahan yang dimodifikasi secara genetik ini, menyebabkan hasil permanen dan kadang-kadang fatal.

3. Vaksin Influenza

Berisi hingga 50.000 bagian per miliar dari Merkuri (raksa), selain itu terdapat bahan Formalin, MSG (MonoSodium Glutamate) dan Aluminium. Dapat menyebabkan wanita hamil keguguran.

4. Antibiotik

Memusnahkan bakteri usus yang baik dan akibatnya berkurangnya sistem kekebalan dalam tubuh. Dokter tidak dapat meresepkan antibiotik untuk infeksi virus karena akan membuat hal ini jauh lebih buruk lagi.

5. Kemoterapi

Meniadakan sistem kekebalan tubuh dan sering menyebabkan tubuh membentuk sel kanker baru, terutama dalam darah. Di tahun 1950-an ilmuwan Nazi tahu persis kemoterapi hanya akan membuat sel kanker sementara surut untuk kemudian datang lagi dengan di bagian lain dari tubuh. Berapa biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kemoterapi? (inikah yang obat-obatan modern sebut dengan keberhasilan?)

6. Vaksin Rotavirus

Rotavirus adalah jenis virus yang menginfeksi usus. Virus ini juga menjadi penyebab umum dari penyakit diare pada bayi dan anak-anak di seluruh dunia. Tapi pembuatan vaksin oral ini sama seperti vaksin lainnya menggunakan gelatin babi yang bagi seorang muslim haram hukumnya.

7. Vaksin Polio (oral atau disuntik)

Fakta bahwa jutaan orang Amerika Serikat pernah disuntik dengan kanker ketika mereka mendapat vaksin polio hal ini tidak pernah dipublikasikan ke publik. Vaksin polio ini telah menyebar di negara-negara berkembang dan meninggalkan banyak anak lumpuh seumur hidup. Vaksin ini pernah terkontaminasi virus simian dari monyet SV40.

Pembuat vaksin ataupun petugas kesehatan tidak pernah memberitahu kebenaran tentang resiko vaksin polio. Mereka hanya bisa membuat pernyataan bahwa “vaksin aman” padahal sebenarnya pernyataan tersebut hanya dibuat-buat membodohi orang. Yang benar adalah vaksin tidak aman untuk semua orang.

Di dunia kesehatan sudah menjadi hal mahfum bahwa banyak vaksin yang mengandung gelatin dari babi, misalnya vaksin MMR (merk VaxPro®, MMR II®), vaksin MMR-varicella (merk ProQuad®), vaksin influenza (merk Fluenz®, Fluzone®, Flumist®), vaksin herpes zooster (merk Zostafax®), vaksin varicella (merk Varivax®), dan vaksin tifoid (merk Vivotif®). Terdapat vaksin yang mengandung gelatin bersumber dari sapi (bovine-derived gelatine), yaitu vaksin rabies merk RabAvert®.

Tetapi, gelatin babi dalam vaksin tidak bisa begitu saja diganti dengan gelatin dari sumber lain, misalnya sapi. Ketika suatu vaksin (yang diproduksi oleh perusahaan obat-obatan dan didaftarkan dengan merk tertentu) telah (disetujui) menggunakan gelatin yang bersumber dari babi, maka komposisi tersebut tidak boleh diganti seenaknya.

Jika gelatin tersebut ingin diubah, maka vaksin tersebut bisa jadi (jika diperlukan) harus diulang lagi proses uji klinisnya untuk menunjukkan bahwa perubahan tersebut tidak berpengaruh terhadap keamanan dan efektivitas vaksin. Hal ini berlaku pula jika ingin melakukan perubahan di komponen vaksin lainnya. Oleh karena itu, mengembangkan vaksin baru dengan stabilizer baru, tentu bukan perkara yang mudah.

Jika membaca penyebaran penyakit-penyakit menular orang akan menjadi paranoid. Industri obat-obatan Amerika Serikat telah memperparah hal ini untuk menakut-nakuti umat manusia melalui berbagai cara di media massa dengan segera melabeli obat-obatan yang mereka rancang sedemikian rupa agar dapat memberikan perlindungan bagi manusia dari virus-virus yang merugikan. Ini merupakan bentuk propaganda pemerasan tanpa masyarakat sadari.

Tahukah Anda bahwa produsen vaksin sekarang kebal terhadap tuntutan hukum? Big Pharma atau di Indonesia ada PT. Bio Farma dilindungi oleh dana besar tertentu. Jika Anda atau anak Anda terkena kanker karena vaksin, Anda tak dapat menuntut produsen vaksin ini, dikarenakan produsen ini dilindungi oleh pemerintah. Walaupun di tahun 1986 prosuden obat-obatan mengalami kerugian besar akibat sejumlah tuntutan karena vaksin yang mereka buat merupakan penyebab anak-anak mengalami kejang-kejang dan kerusakan otak terkait dengan vaksin DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus).

Vaksin dan obat-obatan yang mengandung gelatin babi menurut Islam :

Ada beberapa ulama berpendapat bahwa gelatin babi hukumnya haram dan najis, karena belum dianggap mengalami proses istihalah. Di antaranya adalah keputusan Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy (Organisasi Konferensi Islam) dan Al-Majma’ Al-Fiqhy Al-Islamy (Rabithah Al-‘Alam Al-Islamy). Juga berdasarkan Fatwa Dewan Ulama Besar Kerajaan Saudi Arabia. Mereka berpendapat bahwa yang terjadi hanyalah proses pemisahan gelatin dari kolagen, dan tidak terjadi perubahan zat baru (belum mengalami proses istihalah), sehingga hukumnya tetap najis (haram).

Setelah panjang lebar menjelaskan hukum peggunaan gelatin babi dalam obat dan makanan, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullau Ta’ala menyimpulkan dalam salah satu fatwa beliau lainnya tentang gelatin babi :

“Kesimpulannya TIDAK BOLEH mengkonsumsi makanan, minuman dan obat-obatan yang mengandung gelatin yang berasal dari kulit babi dan benda najis lainnya, khususnya ketika terdapat alternatif pengganti (berupa gelatin yang berasal dari) hewan yang Allah Ta’ala halalkan. Suatu hal yang mungkin untuk membuat gelatin dari hewan halal yang bisa disembelih, dan gelatin tersebut memiliki fungsi yang sama dengan fungsi gelatin babi dalam proses pembuatan obat dan makanan”.

Kesimpulan :

Walaupun merek vaksin yang mengandung gelatin tidak banyak, itu pun sebagian besar adalah vaksin-vaksin yang belum masuk dalam program imunisasi wajib (vaksin yang disubsidi oleh pemerintah) di Indonesia akan lebih baik jika menghindarkan diri dari obat-obatan modern ini karena sudah jelas mempunyai dampak negatif bagi tubuh dan disisi lain menguntungkan segelintir pihak yang ingin membatasi jumlah penduduk melalui program kesehatan modern.

Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam.

sumber :

– Natural News

– dr-rath-foundation

– Joseph Mercola Article

– Kesehatan Muslim

– Blogger Potsitive Movement

0 komentar:

Posting Komentar

Manual Categories

AU Blogger